BAB IV

Pembahasan

Pada pembahasan studi kasus ini penulis akan menyajikan pembahasan yang membandingkan antara teori dengan Asuhan Kebidanan Komprehensif yang di terapkan pada klien Ny. ”A” G3P2A0 sejak kontak pertama pada tanggal 25 Oktober 2010 yaitu dimulai pada masa kehamilan 37 minggu 2 hari, persalinan, 6 minggu post partum, dan BBL dengan pembahasan sebagai berikut :

  1. A.   Pembahasan Asuhan Antenatal

Pengkajian dan pemberian asuhan kebidanan masa kehamilan pada Ny. A dari kehamilan 37 minggu 2 hari yaitu bertujuan untuk membantu ibu dalam menyiapkan aspek fisik, spiritual, sosial dan psikologis dalam menghadapi persalinan dan nifas. Sasaran utama pemberian asuhan yaitu untuk memastikan bahwa ibu dan bayi memiliki kesehatan yang baik pada akhir kehamilan dan mendeteksi dini adanya komplikasi yang mungkin timbul.

( Wiknjosastro, 2002: 154).

Ny. A telah melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur sebanyak 8 kali. Hal ini berdasarkan kebijakan yaitu kunjungan pemeriksaan kehamilan untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan janin minimal 4 kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : kehamilan trimester pertama satu kali kunjungan, kehamilan trimester kedua satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester tiga dua kali kunjungan. (Wiknjosastro, 2002:125).

231

Dalam pemeriksaan kehamilan ini, Ny. A hanya mendapatkan 6T pelayanan standar, tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa teori terdiri dari 7T yaitu, timbang, tekanan darah, tinggi fundus, imunisasi TT, tablet Fe, temuwicara dan test penyakit menular seksual (Sarwono, 2006).

Pada Ny A pemeriksaan darah hanya dilakukan satu kali pada trimester III kehamilan, sedangkan menurut teori pemeriksaan darah pada ibu hamil dilakukan dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III (Salmah, 2006:138). Walaupun hal ini merupakan kesenjangan antara teori dengan asuhan yang diberikan, tetapi pada hasilnya tidak ditemukan suatu masalah.

Bila dilihat secara psikis, Ny. A tidak mengalami kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan karena ini adalah kehamilan yang ketiga.

Pada kasus Ny. A status gizi kurang baik bila dilihat dari pertambahan berat badan selama hamil. Kenaikan berat badan yang dialami Ny.  A  adalah 10 kg yaitu dari 40 kg menjadi 50 kg. Hal ini tidak sesuai dengan penambahan berat badan yang direkomendasikan untuk pertambahan berat badan ibu selama hamil antara 11,5 kg- 16 kg. (Salmah, 2006: 111)

Menurut teori wanita hamil dan menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan diet terutama mengenai jumlah protein, kalori yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kalori untuk wanita hamil ± 285 kalori. Zat-zat yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, zat lemak, mineral, kalsium, fosfor dan zat besi sangat diperlukan ibu hamil. Makanan tersebut diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta, uterus dan payudara untuk persiapan laktasi. Selain personal hygiene pada wanita hamil juga sangat penting supaya tidak mengganggu kesehatan ibu dan janin. (Salmah, 2006:110-128)

Pada kasus Ny. A, tidak ditemukan kelainan dalam kehamilannya. Penulis memberitahukan pada ibu mengenai tanda-tanda bahaya pada kehamilan. Menurut teori tanda-tanda bahaya kehamilan adalah:

  1. Pendarahan yang keluar dari jalan lahir seperti abortus, plasenta previa, dan solusio plasenta.
  2. Hiperemesis.
  3. Pre-eklamsia dan eklamsia.
  4. Ketuban pecah dini.
  5. Gerakan janin yang tidak dirasakan.

(Salmah, 2006)

Selama kehamilan ini, Ny. A mengalami keluhan-keluhan pada trimester III, seperti mengeluh sering kencing dan sakit pinggang, itu disebabkan karena kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul dan menekan kandung kencing (Bobak, 2004:188).

Selama kehamilan ini Ny. A tidak mengalami masalah dalam hubungan seksualitas. Saat menjelang kelahiran ini , Ny. A mengurangi aktifitas hubungan seksual karena takut dan khawatir pada bayinya. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan, jika kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul, coitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan (Sarwono, 2002:160)

  1. B.   Pembahasan Asuhan Intranatal

Kala I

Kala I pada kasus ini didasari dengan adanya mules-mules yang dirasakan Ny. A sejak jam 21.00WIB. Pada saat pemeriksaan jam 23.30 WIB frekuensi mules 3 kali dalam 10 menit dan lamanya  40 detik. Pada pemeriksaan dalam ditemukan pembukaan  7 cm. Dalam teori kala ini termasuk kala I fase aktif. Lamanya kala 1 fase aktif untuk multipara kira-kira 7 jam. Yang terjadi dirasakan oleh Ny. A sesuai dengan teori. (Wiknjosastro, 2002 : 183)

Asuhan yang diberikan :

Kebutuhan nutrisi dan hidrasi : Ny. A dianjurkan untuk makan dan banyak minum sesering mungkin. Menurut teori, Hal ini diberikan untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi.

Asuhan sayang ibu : pada kasus Ny. A, penulis memberikan asuhan sayang ibu dengan tujuan untuk memberi rasa nyaman dapat mengurangi kecemasan dan juga rasa sakit yang dialami oleh ibu. Asuhan yang diberikan yaitu :

  1. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu.
  2. Menjaga kebersihan diri.
  3. Mengipasi dan massase agar menambah kenyamanan ibu.
  4. Mengajak suami atau ibu mendampingi untuk memijat atau mengusap keringat.
  5. Mengatur posisi ibu sesuai dengan keinginan ibu.
  6. Menjaga kandung kemih tetap kosong.
  7. Mengajarkan teknik bernafas kepada ibu saat ada kontraksi dengan tujuan mengurangi rasa sakit akibat kontraksi dan mengupayakan aliran oksigen ke janin tidak terganggu (Wiknjosastro, 2008).

Kala II

Pada kasus, Ny. A mengalami kontraksi yang semakin lama semakin sering kemudian pembukaan lengkap. Ada dorongan untuk meneran, tekanan pada anus, vulva membuka dan perineum menonjol. Persiapan proses persalinan kala II ini yaitu memberitahukan cara meneran yang benar dan mengatur posisi ibu. Posisi yang dianjurkan adalah posisi setengah duduk dan miring. Yang diambil oleh Ny. A adalah posisi setengah duduk dimana menurut teori posisi tersebut dapat membantu turunnya kepala.

Pada Ny. A kala II berlangsung 15 menit dan menurut teori pada primigravida kala II berlangsung rata – rata 1,5 jam dan pada multipara rata – rata 0,5 jam. (wiknjosastro, 2002:184)

Kala III

Dalam kasus Ny. A pada kala III tidak ada kesenjangan antara teori dengan pelaksanaan, perdarahan pada kala III sebanyak ±50 cc dan lama kala III pada Ny. A 10 menit, berdasarkan teori biasanya plasenta lepas dalam 6-15 menit setelah bayi lahir (Wiknjosastro, 2002 : 185)

Kala IV

Setelah plasenta lahir, asuhan yang diberikan pada Ny. A antara lain : cek plasenta, memberikan kenyamanan pada ibu, mengawasi perdarahan post partum, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, tekanan darah, kandung kemih dan keadaan umum ibu. Pada kala IV ini Ny. A dianjurkan masase fundus uteri dengan diajarkan terlebih dahulu untuk memantau kontraksi. Hal ini dilakukan untk mencegah perdarahan post partum. Oleh karena itu, penulis melakukan observasi tersebut setiap 15 menit pada jam pertama setelah melahirkan dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah melahirkan (Asuhan Persalinan normal 2008).

  1. C.   Pembahasan Asuhan Post Partum

Ny. A melakukan mobilisasi dengan miring ke kiri dan ke kanan segera setelah melahirkan dan turun sendiri dari tempat tidur ke kamar mandi setelah 4 jam melahirkan. Mobilisasi dan early ammbulation ini perlu dilakukan, karena dapat mencegah terjadinya tromboli dan tromboemboli. Mobilisasi ini dilakukan dengan cara melihat kondisi ibu.

Dalam masa ini, Ny. A telah mendapatkan 4 kali kunjungan nifas yaitu 6 jam post partum, 6 hari setelah persalinan, 2 minggu setelah persalinan dan 6 minggu setelah persalinan. Hal ini sesuai dengan kebijakan tekhnis dalam asuhan masa nifas menurut Saleha( 2009 : 6-7) yaitu kunjungan I (6-8 jam setelah persalinan), kunjungan II (6 hari setelah persalinan), kunjungan III (2 minggu setelah persalinan), kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan).

Pada kunjungan I (6 jam) ibu diberikan Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas, mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberi rujukan bila perdarahan berlanjut, memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri, pemberian ASI pada masa awal menjadi ibu, mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir, menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia. Hal ini sesuai dengan kebijakan tekhnis dalam asuhan masa nifas menurut Saleha (2009 : 6).

Pada kunjungan ke II (1 minggu) dilakukan pemeriksaan pada uterus untuk memastikan involusi uterus berjalan normal, pada Ny. A tinggi fundus uteri sudah tidak teraba lagi, menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal pada ibu, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit serta memberikan konseling kepada ibu tentang perawatan payudara, bagaimana cara menjaga bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari di rumah. Hal ini sesuai dengan kebijakan tekhnis dalam asuhan masa nifas menurut Saleha( 2009 : 6).

Pada kunjungan ke III (2 minggu) dilakukan pemeriksaan seperti yang dilakukan pada 1 minggu post partum . Hal ini sesuai dengan kebijakan tekhnis dalam asuhan masa nifas menurut Saleha,(2009 : 7).

Pada kunjungan ke IV (6 minggu), Ny. A  memberikan konseling untuk KB secara dini tentang macam-macam KB, yaitu pil, suntik, IUD, implan, kondom, spermisida, dan coitus interuptus, membantu ibu untuk memilih kontrasepsi yang cocok serta menjelaskan keuntungan dan efek samping yang dialami dari KB yang dipilih Ny. A. Menanyakan pada ibu adakah penyulit yang dirasakan oleh ibu atau bayinya. Hal ini sesuai dengan kebijakan tekhnis dalam asuhan masa nifas menurut Saleha( 2009 : 7).

  1. D.   Pembahasan Bayi Baru Lahir

Segera setelah bayi lahir, penulis menetekkan bayi pada Ny.A  dengan melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Hal ini dilakukan supaya dapat merangsang uterus berkontraksi dan mencegah perdarahan. Setelah persalinan selesai penulis melakukan penilaian pada bayi dan melakukan perawatan selanjutnya pada bayi yaitu menjaga kehangatan pada bayi, menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara memberitahu ibu cara menyusui yang benar, tidak memandikan bayi segera setelah bayi lahir dan menempatkan bayi di lingkungan yang hangat. Pada bayi Ny. A penulis memberikan vitamin K 1 mg IM dan salep mata sebagai profilaktif yaitu salep tetracycline 1%. Profilaktif mata tidak akan efektif bila tidak diberikan pada 1 jam pertama, oleh karena itu, penulis segera memberikan profilaktif tersebut (Wiknjosastro, 2008).

Proses persalinan berlangsung dengan normal dan bayi Ny. A lahir dalam keadaan sehat serta tanpa ada kelainan. Bayi tidak mengalami kegawatan atau pun tanda- tanda sakit berat.

Pada kunjungan ke I (2 – 6 jam) keadaan umum bayi baik, menangis kuat, refleks hisap jari baik, tali pusat masih basah dan terbungkus kasa steril, sudah BAK dan BAB. Tali pusat  terbungkus kassa steril tidak sesuai dengan teori bahwa tali pusat harus di biarkan kering tanpa di bungkus apapun. (Wiknjosastro, 2008)

Pada kunjungan ke II ( 6 hari ) bayi Ny. A terlihat sehat, tali pusat sudah lepas dan keadaannya bersih dan kering. Bayi Ny. A diberikan imunisasi Hepatitis B 0.

Pada kunjungan ke III (2 minggu) bayi Ny. A  dipastikan mendapat ASI cukup tanpa diberikan pendamping ASI atau susu formula. Mengingatkan ibu untuk memberikan imunisasi BCG dan polio 2 pada tanggal 4 januari 2011.

Pada kunjungan ke IV (6 minggu) bayi Ny. W mengalami peningkatan BB menjadi 3600 gram dari BB lahir 3400 gram, PB menjadi 50 cm dari 47 cm. (Wiknjosastro, 2007).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s