1.   Definisi BBL

Bayi baru lahir normal (BBLN) adalah bayi yang baru lahir dengan usia kehamilan atau masa gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36-40 minggu. ( Mitayani, 2010:1)

Periode neonatal yang berlangsung sejak bayi lahir sampai usianya 28 hari merupakan waktu berlangsungnya perubahan fisik yang dramatis pada bayi baru lahir. ( Bobak, 2004 : 363-365)

Bayi baru lahir normal harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan didalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di luar rahim (ekstrauterin). Perubahan lingkungan dari dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhioleh banyak factor seperti kimiawi, mekanik dan termik yang menimbulkan perubahan metabolic, pernafasan dan sirkulasi pada BBLN.

( Mitayani, 2010:1-2)

  1. 2.    Adaptasi BBL

Sebagai akibat perubahan lingkungan dalam uterus keluar uterus, maka bayi menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanik dan termik. Hasil perangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan metabolik, pernafasan, sirkulasi dan lain-lain.

  1. Gangguan metabolisme karbohidrat

Oleh karena kadar gula darah tali-pusat yang 65mg/100ml akan menurun menjadi 50 mg/100ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120mg/100ml. bila oleh karena sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguan pada metabolisme asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemi, misalnya terdapat pada bayi BBLR ( Bayi Berat Lahir Rendah), bayi dari ibu menderita diabetes mellitus dan lain-lain. (Budjang, 2002:253)

  1. Gangguan umum

Sesaat sesudah lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila didiamkan saja pada suhu kamar 250 C maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/ kg BB/menit. Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh daripada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 20 C dalam waktu 15 menit.  Kejadian ini sangat berbahaya untuk neonates terutama BBLR, dan bayi asfiksia oleh karena mereka tidak sanggup mengimbangi penurunan suhu tersebut dengan vasokontriksi, insulasi dan produksi panas yang dibuat sendiri. Akibat suhu tubuh yang rendah metabolism jaringan akan meninggi dan asidosis yang ada (terdapat pada semua neonatus) akan bertambah berat, sehingga kebutuhan oksigen pun akan meningkat.hipotermi ini juga dapat menimbulkan hiperglikemia.bkehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (mengeringkan, membungkus badan dan kepala dan kemudian letakkan di tempat yang hangat  seperti pangkuan ibu, tempat tidur dengan botol-botol hangat sekitar bayi atau dalam incubator dan dapat pula dibawah sorotan lampu). (Budjang, 2002:253-254)

  1. Perubahan sistem pernafasan

Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah kelahiran. Pernafasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya, seperti kemoreseptor karotid yang sangat peka terhadap kekuranga oksigen; rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu didala uterus dan didalam uterus.

Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernafasan dalam otak yang melanjutkan rangsangan tersebut untuk menggerakkan diafragma serta otot-otot pernafasan lainnya. Tekanan rongga dada pada bayi pada waktu melalui jalan lahir pervaginam mengakibatkan bahwa paru-paru, yang pada janin normal cukup bulan mengandung 80-100 ml cairan, kehilangan 1/3 dari cairan ini.

Sesudah bayi lahir cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru berkembang, sehingga rongga dada kembali pada bentuk semula. (Budjang, 2002: 254-255)

  1. Perubahan system sirkulasi

Dengan berkembangnya paru-paru,tekanan oksigen didalam alveoli meningkat. Sebaliknya, tekanan karbon dioksida turun. Hal-hal tersebut mengakibatkan turunya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru sehingga aliran darah kea lat tersebut meningkat. Ini menyebabkan darah dari arteri pumonalis mengalir ke paru-paru dan duktus arteriosus menutup. Dengan menciutnya arteria dan vena umbilikalis dan kemudian dipotongnya tali pusat aliran darah dari plasenta melalui vena kava inferior dan folamen ovale ke atrium kiri terhenti. Dengan diterimanya darah oleh atrium kiri dari paru-paru, tekanan di atrium kiri menjadi lebih tinggi daripada tekanan di atrium kanan; ini menyebabkan foramen ovale menutup. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup diluar badan ibu. (Budjang, 2002:255)

  1. Perubahan lain

Alat-alat pencernaan, hati, ginjal dan alat-alat lain mulai berfungsi. (Budjang, 2002:255)

  1. 3.      Kebutuhan Dasar BBL

Menurut APN, (2008) kebutuhan dasar bayi baru lahir, diantaranya :

  1. a.   Penilaian Awal

Untuk semua BBL, lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan :

Sebelum bayi lahir :

1)    Apakah kehamilan cukup bulan?

2)    Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?

Segera setelah bayi lahir, sambil meletakan bayi di atas kain bersih dan kering yang telah disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan penilaian berikut :

1)    Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak mengap-mengap?

2)    Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?

Dalam Bagan Alur Manajemen BBL dapat dilihat alur penatalaksanaan BBL mulai dari persiapan, penilaian dan keputusan serta alternative tindakan apa yang sesuai dengan hasil penilaian keadaan BBL. Untuk BBL cukup bulan dengan air ketuban jernih yang langsung menagis atau bernapas spontan dan bergerak aktif cukup dilakukan manajemen BBL normal.

Jika bayi kurang bulan (<37 minggu/259 hari) atau bayi lebih bulan (≥42 minggu/283 hari) dan atau air ketuban bercampur mekonium dan atau tidak bernapas/mengap-mengap dan atau tonus otot tidak baik lakukan manajemen BBL dengan Asfiksia.

MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR NORMAL :

  1. b.            Membersihkan jalan nafas

Bayi normal akan menangis sepontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut.

1)  letakan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.

2)  Gulung sepotong bayi dan letakan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala di atur lurus sedikit kebelakang.

3)  Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril.

4)  Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 – 3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis.

5)  Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak. Sangat penting membersihkan jalan nafas, sehingga upaya bayi bernafas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya lendir ke paru paru)

6)  Bantuan untuk memulai pernapasan mungkin diperlukan untuk mewujudkan ventilasi yang adekuat.

 

 

 

 

 

  1. c.   Memotong tali pusat

1)  Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil, maka lakukan pengikatan tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat.

2)  celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) kedalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya.

3)  Bilas tangan dengan air disinfeksi tingkat tinggi, lalu keringkan dengan handuk atau kain bersih dan kering.

4)  Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dinding perut bayi. Gunakan benang atau klem plastik penjepit tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastik tali pusat.

5)  Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling puntung tali pusat dan ikat untuk yang kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan.

6)  Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan letakan di dalam larutan klorin 0,5%.

7)  Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering.

  1. d.   Menjaga kehangatan

Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada bayi baru lahir, belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermia.

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara – cara berikut:

1)    Evaporasi, adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Ini dikarenakan  setelah lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan.

2)    Konduksi, adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.

3)    Konveksi, adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingi. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.

4)    Radiasi, adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda- benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tibuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda- benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi.

  1. e.   Kontak dini dengan ibu

1)    Berikan bayi kepada ibu secepat mungkin. Kontak dini antara ibu dan bayi penting untuk :

a)    Kehangatan dan mempertahankan panas yang sesuai pada bayi  baru lahir

b)    Ikatan batin dan pemberian ASI.

2)    Dorongan ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah “siap” (dengan menunjukkan refleks rooting).

  1. f.    Memberi Vitamin K

Semua BBL harus diberi vitamin K (Phytomenadione) injeksi 1 mg intramuscular setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL. Jika menggunakan sediaan 10 mg/mL suntikan secara IM di paha kiri anterolateral sebanyak 0,1 mL, sedangkan jika sediaan 2 mg/mL maka suntikan vit.K sebanyak 0,5 mL.

  1. g.   Memberi obat tetes mata atau salep mata

Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata diberikan setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu. Pencegahan infeksi mata tersebut mengandung tentrasiklin 1% atau antibiotika lain. Upaya pencegahan infeksi mata kurang efektif jika diberikan >1 jam setelah kelahiran.

  1. 4.     Pemeriksaan Fisik BBL
    1. a.   Pemeriksaan

Dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir lakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Jika ditemukan factor resiko atau masalah, petugas dapat meminta bantuan yang memang diperlukan. Rekam dan catatlah hasil pengamatan setiap hasil pemeriksaan dan setiap tindakan yang diperlukan lebih lanjut.

Tujuan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir

1)  Mengidentifikasi riwayat kesehatan bayi

2)  Mengobservasi karakteristik bayi

3)  Memperkirakan usia gestasi

4)  Mengkaji perilaku bayi

5)  Mengkaji integritas neuromuscular

6)  Mengidentifikasi masalah kesehatan

7)  Merencanakan tindakan

8)  Menggunakan hasil pengkajian untuk mengajarkan orang tua tentang bayinya.

(Mitayani, 2010:5)

  1. b.  Waktu pemeriksaan BBL

Table 2.22

Pemeriksaan BBL

 

Bayi lahir di fasilitas kesehatan Bayi lahir di rumah
Baru lahirSetelah IMD, pemberian vitamin K1 dan salep/tetes mata antibiotika. Baru lahirSetelah IMD, pemberian vitamin K1 dan salep/tetes mata antibiotika
Usia 6-12 jam Sebelum bidan meninggalkan bayi
Dalam 1 minggu pasca lahir, dianjurkan dalam 2-3 hari Dalam 1 minggu pasca lahir, dalam 2-3 lahir
Selanjutnya mengikuti buku KIA

(APN, 2008:136)

  1. c.   Pemeriksaan fisik

Langkah-langkah dalam pemeriksaan fisik pada bayi :

1)      Pemeriksaan umum

Pengukuran antropometri yaitu pengukuran lingkar kepala yang dalam keadaan normal berkisar 33-35 cm, lingkar dada 30,5-33 cm, panjang badan 45-50 cm, berat badan bayi 2500-4500 gram.

2)    Pemeriksaan tanda-tanda vital

Suhu tubuh, nadi, pernafasan bayi baru lahir bervariasi dalam berespon terhadap lingkungan.

a)    Suhu bayi

Suhu bayi dalam keadaan normal berkisar antara 36,5-37,50 C pada pengukuran diaxila.

b)    Nadi

Denyut nadi bayi yang normal berkisar 120-140 kali permenit.

 

c)    Pernafasan

Pernafasan pada bayi baru lahir tidak teratur kedalaman, kecepatan, iramanya. Pernafasannya bervariasi dari 30 sampai 60 kali permenit.

d)    Tekanan darah

Tekanan darah bayi baru lahir rendah dan sulit untuk di ukur secara akurat. Rata-rata tekanan darah pada waktu lahir adalah 80/64 mmHg.

3)    Pemeriksaan fisik secara sistematis (head to too)

Pemeriksaan fisik secara sistematis pada bayi baru lahir di mulai dari:

a) Kepala

Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengidentifikasikan yang preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding atau moulase. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkanpeningkatan tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi.

Periksa adanya trauma kelahiran misalnya : caput suksedaneum, sefalhematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak. Perhatikan adanya kelainan congenital seperti :anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.

b)    Telinga

Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang. Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas. Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre-robin). Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal.

c)    Mata

Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna. Periksa adanya glaucoma congenital, mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak congenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina.

Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina, adanya secret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmiadan menyebabkan kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.

d)    Hidung atau mulut

Bibir bayi baru lahir harus kemerahan dan lidahnya harus rata dan simetris.bibir dipastikan tidak adanya sumbing dan langit-langit harus tertutup. Reflek hisaf bayi harus bagus, dan berespon terhadap rangsangan. Kaji benttuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih 2,5 cm.

Bayi harus bernafas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan adanya obstruksi jalan nafas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring.

e)    Leher

Ukuran leher normalnya pendek dengan banyak lipatan tebal. Leher berselaput berhubungan dengan abnormalitas kromosom. Periksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik. Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher. Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis.lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan.

Periksa adanya pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis. Adanya lipatan kulit yang berlebihan dibagian belakang leher menunjukan adanya kemungkinan trisomi 21.

f)     Dada

Kontur dan simetrisitas dada normalnya adalah bulat dan simetris. Payudara baik pada laki-laki maupun perempuan terlihat membesar.karena pengaruh hormone wanita dari darah ibu. Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernafas. Apabila tidak simetris kemungkinan bayi mengalami pneumotorik, paresis diafragma atau hernia diafragmatika.pernafasan yang normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan. Tarikan sternum atau interkostal pada saat bernafas perlu diperhatikan.

g)    Bahu, lengan dan tangan

Gerakan normal, kedua lengan harus bebas gerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya plidaktili atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dn perdarahan.

h)    Perut

Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menagis, perdarahan tali pusat. Perut hrus tampak bulat dan bergerak secara bersamaan dengan gerakan dada saat beernafas. Kaji adanya pembengkakan, jika perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia diafragmatika, perut yang membuncit kemungkinan karena hepato- splenomegali atau tumor lainnya. Jika perut kembung kemungkinan adanya enterokolitis vesikalis, omfalokel atau duktus omfaloentriskus persisten.

i)     Kelamin

Pada wanita labia minora dapat ditemukan adanya vrniks dan smegma (kelenjar kecil yang terletak dibawah prepusium mensekresi bahan yang seperti keju) pada lekukan. Labia mayora normalnya menutupi labia minora dan klitoris. Klitoris normalnya menonjol. Menstruasi palsu kadang ditemukan, diduga pengaruh hormon ibu disebut juga psedomenstruasi, normalnya terdapat umbai hymen. Pada bayi laki-laki rugae normalnya tampak pada skrotum dan kedua testis turun kedalam skrotum. Meatus urinarius normalnya terletak pada ujung glands penis. Epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan dorsal. Hipospadia untuk menjelaskan kondisi meatus berada dipermukaan ventral penis.

j)     Ekstermitas atas dan bawah

Ekstermitas bagian atas normalnya fleksi ddengan baik dengan gerakan yang simetris. Refleks menggengam normalnya ada. Kelemahan otot parsial atau komlet dapat menandakan trauma pada pleksus brakhialis. Nadi brakhialis normalnya ada. Ekstermitas bagian bawah normalnya pendek, bengkok dan fleksi dengan baik. Nadi femoralis dan pedis normalnya ada.

k)    Punggung

Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tanda-tanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan atau cekungan, lesung atau bercak kecil berambut yang dapat menunjukan adanya abnormalitas medulla spinalis atau kolumna vertebrata.

l)     Kulit

Verniks ( tidak perlu dibersihkan karena untuk menjaga kehangatan tubuh bayi), warna, pembengkakan atau bercak-bercak hitam, tanda-tanda lahir. Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan.

m)  Refleks

Refleks berkedip, batuk, bersin, dan muntah ada pada waktu lahir dan tetap tidak berubah samapai dewasa. Beberapa refleks lain normalnya ada waktu lahir, yang menunjukan imaturitas neurologis, refleks-refleks tersebut akan hilang pada tahun pertama. Tidak adanya refleks-refleks ini menandakan masalah neurologis yang serius.

(Mitayani,2010:5-11)

  1. 5.      Tanda Bahaya BBL

Menurut Saifuddin, 2006: 139 semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda- tanda kegawatan atau kelainan menunjukan suatu penyakit. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa tanda – tanda berikut.

  1. Sesak nafas.
  2. Frekwensi pernapasan 60 kali/menit.
  3. Gerakan retraksi di dada.
  4. Malas minum.
  5. Panas atau suhu badan bayi rendah.
  6. Gerakan Kurang aktif.
  7. Berat badan lahir rendah (1500-2500 gram)
  8. Tanda – tanda bayi sakit berat.
  9. Sulit minum
  10. Sianosis sentral (lidah biru)
  11. Perut kembung
  12. Periode apneu

m. Kejang/periode kejang – kejang kecil

  1. Merintih
  2. Perdarahan tali pusat
  3. Sangat kuning
  4. Berat badan Lahir < 1500 gram.

                      Tabel 2.23

Tanda – tanda bahaya bayi baru lahir

Tanda-tanda Bahaya Yang Harus Diwaspadai Pada Bayi Baru Lahir
©       Pernapasan – sulit atau lebih dari 60 kali permenit.©       Kehangatan – terlalu panas (>38 atau terlalu dingin < 36 derajat celcius).

©       Warna – kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.

©       Pemberian makan – hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.

©       Tali pusat – merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah.

©       Infeksi – suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau busuk, pernapasan sulit.

©       Tinja/kemih – tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja.

©       Aktivitas – menggigil, atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terus menerus.

(Prawirohardjo, 2006)

  1. 6.    Imunisasi

Jenis – Jenis Imunisasi Pada Bayi

Jenis Imunisasi

Manfaat

Waktu pemberian

Tempat pemberian

Catatan

Hepatitis B

Mencegah penyakit hepatitis B yang menyerang hati (liver); berakhir menjadi sirosis (hati menciut ) dan kanker hati Diberikan pada waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 3-6 bulan. Interval dosis minimal 4 minggu. Disuntikan di paha
  • Diberikan tanpa memandang status ibu (pernah terinfeksi atau belum).
  • Tak ada obat spesifik untuk menangani penyakit ini.

Polio

Mencegah terkena polio (poliomyelitis)yang menyebabkan anak lumpuh (kebanyakan mengenai satu kaki tetapi bisa juga terkena kedua kakinnya). Diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir dirumah bersalin OPV (Oral Polio Vaksin) diberikan saat bayi di pulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain) Di teteskan di mulut. Diberikan 3 kali dalam selang waktu 6-8 minggu Penyakit ini sangat menular dan tidak ada obatnya

BCG

Mencegah penyakit TBC ( tuberkulosis) Diberikan sejak lahir. Jika umur lebih dari 3 bulan harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. BCG diberikan jika uji negatif. Disuntikan dilengan atas Umumnya menyerang paru-paru. Tapi pada anak-anak, penyakit ini dapat menjalar ke otak, kelenjar, tulang dan menimbulkan komplikasi.

DPT

Mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus Usia bayi 2 bulan, dengan selang waktu 4 minggu untuk DPT berikutnya Disuntikan di paha atau di lengan Bayi menjadi demam, gelisah, dan sedikit rewel

Campak

Kekebalan terhadap campak Usia 9 bulan. Disuntikan dilengan.  Bayi menjadi demam.

(Mitayani, 2010 : 54-55)

 

Tabel 2.24

Jadwal imunisasi

 

Jenis imunisasi Guna Umur Pemberian Vaksinasi
Bulan Tahun
LHR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 6 7 8 9
BCG Pencegahan TBC                             
Hepatitis B Hepatitis B 0   1 2 3                  
Polio1 polio 1                          
Polio 2     2                      
Polio 3       3                    
Polio 4         4                  
DPT COMBO 1 Dipteri, pertusis,  tetanus dan hepatitis B     1                      
DPT COMBO 2       2                    
DPT COMBO 3         3                  
CAMPAK Campak                   1   2    
DT Dipteri dan tetanus                       1    
TT Tetanus toxoid                         1 2

Bookleat “  Nestle Dancow ‘Paspor Si Kecil “, 2008

7. Diagnosa BBL

Diagnosis bayi baru lahir pada dasarnya berguna untuk mencari atau mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada janin. Kegagalan untuk mendeteksi kelainan janin dapat menimbulkan masalah pada jam-jam pertama kehidupan bayi diluar rahim. Dengan mengetahuikelainan pada janin dapat membantu untuk mengambil tindakan serta memberikan asuhan keperwatan yang tepat sehingga dapat membantu bayi baru lahir sehat untuk tetap sehat sejak awal kehidupannya.

Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR SCORE). Pertemuan SAREC di swedia tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut nilai SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadi konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial.

Cara menetapkan nilai SIGTUNA

Yang dinilai 2 1 0 Nilai
pernafasan teratur Megap-megap Tidak ada
Denyut jantung >100/menit <100 /menit Tidak ada
Jumlah nilai = Nilai SIGTUNA

Derajat validitas bayi baru lahir menurut nilai SIGTUNA adalah: (a) tanpa asfiksia atau asfiksia ringan nilai =4, (b) asfiksia sedang nilai 2-3, (c) asfiksia berat nilai 1, (d) bayi lahir mati /mati baru ” fresh still birth” nilai 0.

Penilaian APGAR skor ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950). Penilaian APGAR skor ini dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk memberi kesempatan kepada bayi memulai perubahan, kemudian menit ke-5 serta menit ke-10. Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang rendah dan perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis.

Tanda 0 1 2
Appearance Biru, pucat tungkai biru Badan pucat,muda Semuanya merah
Pulse Tidak teraba <100 >100
Grimace  Tidak ada  Lambat Menangis kuat
Activity Lemas /lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/ reaksi melawan
Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

Hasil nilai APGAR skor dinilai setiap variabel dinilai dengan angka 0,1 dan 2, nilai tertinggi adalah 10, selanjutnya dapat ditentukan keadaan bayi sebagai berikut :

Nilai 7-10 menunjukan bahwa bayi dalam keadaan baik (vigrous baby)

Nilai 4-6 menunjukan bayi mengalami depresi sedang dan membutuhkan tindakan resusitasi

Nilai 0-3 menunjukan bayi mengalami depresi serius dan membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi.

Pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar 4-6 : segera lakukan resusitasi aktif asfiksia sedang. Pada bayi baru lahir dengan nilai apgar 0-3 : segera lakukan resusitasi aktif asfiksia berat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s